Mengapa Orang Asia Kalah Kreatif Dengan Orang Barat?
23/09/2010 2 Komentar
Prof. Ng Aik Kwang University of Queensland; dalam bukunya “Why Asians Are Less Creative Than Westerners” (2001) yang dianggap kontroversial tapi menjadi “best seller” (www.idearesort.com/trainers/T01.p). mengemukakan beberapa hal dibawah ini yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang:
1. Bagi orangg Asia, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) tidak dihargai. Sebagai akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap lebih cepat bisa menjadikan seseorang utk memiliki kekayaan banyak.
2. Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada cara untuk memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila ceritera, novel, sinetron atau film yang disukai adalah yang bertema orang miskin menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir/ diterima sebagai sesuatu yg wajar.
3. Bagi orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis “kunci jawaban” bukan pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT dan lain lain, semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus – rumus iImu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus rumus tersebut.
4. Karena berbasis hafalan, di sekolah di Asia murid dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi “Jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit sedikit ttg banyak hal tapi tidak menguasai apapun).
5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dalam Olympiade Fisika, dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada org Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainya yang berbasis inovasi dan kreativitas.
6. Orang Asia takut salah (kiasi) dan takut kalah (kiasu). Makanya sifat eksploratif untuk memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai.
7. Bagi org Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah
8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru / narasumber untuk minta penjelasan tambahan.
(Ini saya dapatkan dari milis langganan saya. Bagi saya pribadi, isinya banyak benarnya dan inilah buah yang kita petik dari sistem pendidikan nasional sejauh ini). Need your comment on this.



Mataram Time

pengunjung neon