DWILOGI PADANG BULAN : Kembalinya Sang Prodigy Sastra
08/07/2010 Tinggalkan Komentar
Dwilogi Padang Bulan adalah novel terbaru prodigy sastra kita; Andrea Hirata. Novel ini terdiri dari dua bagian yaitu Padang Bulan dan Cinta Di Dalam Gelas. Kembali kita akan dibawa ke petualangan cinta Ikal dengan A Ling yang tak mendapat restu dari Ayahnya. Dua tokoh baru akan dikenalkan pada para fans setia Andrea yaitu Si Enon – penambang timah wanita pertama di dunia yang sangat gemar belajar Bahasa Inggris dan Detektif M Nur. Eksplorasi budaya Orang Melayu kembali disajikan dengan lugas, jenaka dan bersahaja.
Masih dengan gaya sastra magisnya yang mentertawakan tragedi dan kepedihan, Andrea kembali akan membawa kita menangis dan tertawa menelusuri lorong cinta pasangan Ikal dan A Ling dalam memperjuangkan cinta mereka yang semakin absurd.
Pada dwilogi ini kita akan dibawa untuk lebih mengenal sosok Maryamah Karpov yang sempat menjadi judul terakhir dari novelis ini – sosok tegar seorang wanita tang terpahat oleh kerasnya kehidupan, tidak kenal menyerah dan… sangat menggemari Bahasa Inggris.
Sebuah cuplikan puisi dari novel semakin menegaskan bahwa Andrea Hirata tidak ada matinya dan novel ini layak menjadi koleksi kesayangan di perpustakaan pribadimu.
Bulan di atas kota kecilku yang ditinggalkan zaman
Orang asing
Orang asing
Seseorang yang asing Baca tulisan ini lebih lanjut
Kapan anda merasa telah benar – benar “Got The Life” – benar – benar hidup?Dari basis legendaris Band Nu Metal “Korn” hadir kisah yang benar – benar lepas, ekstrim dan tak terkendali tentang band Nu Metal terbesar saat ini. Fieldy dalam bukunya “Fieldy : Got The Life” yang ditulis dengan apik oleh Laura Norton. 

Rasanya ingin kembali mengulas tetralogi terakhir dari laskar pelangi ini, karena berbagai macam tanggapan dengan rilisnya novel teranyar si Andrea. Ada yang bilang bahwa seri terakhir ini Andrea terlalu menghayal, ending yang antiklimaks, semacam penghancuran dari cerita yang sangat inspiratif di 3 novel sebelumnya, ada juga yang bilang bahwa dari segi judul sangat tidak memiliki relevansi jelas dengan mozaik – mozaik di novel ini, namun banyak pula yang sependapat bahwa novel kali ini memiliki pageturner yang sangat kuat. Apapun itu menurut pendapat Saya yang mungkin sangat subyektif sebagai Laskar Pelangi Mania bahwa novel ini adalah sebuah karya sastra yang berkelas, terlepas dari harapan pembaca yang mengaharapkan semacam happy ending untuk mengakhiri tetralogi laskar pelangi tidak terpenuhi di novel pamungkas ini. 

Mataram Time

pengunjung neon