DANKE Diego!

Rasanya berlebihan tulis media tentang (Timnas) Jerman yang fenomenal. Meski fakta di lapangan telah bicara: Argentina takluk 0-4 kontra Jerman di Perempat Final; mungkin kita lupa, bahwa mereka yang bermain adalah (masih) manusia biasa juga seperti Anda dan saya, kita: khalayak penonton, dan orang kebanyakan (untuk tidak menyebut: tukang komentar) lainnya —yang jemu menyaksikan sepak bola bertahan: kering!

Andai Jerman kalah, entah apa lagi kata media tentang “Reformasi Bola” di Jerman, seperti satu tulisan Sindhunata tentang hal itu dalam edisi Piala Dunia, “La Coupe du Monde 1998”, di Perancis. Maafkan, tak lepas dari “mitos” dan “kultus individu” yang dithabiskan kepada Maradona sebagai “Dewa Bola”; saya kira (Timnas) Argentina telah aktif memainkan sepak bola menyerang. Dalam dialektika bola, “pertahanan yang baik adalah menyerang”, demikian Opa Marinus Michels (Inisiator “Total Football” Tim Oranye) memformulasikan bagaimana manusia bermain bola.

Dan, kita tahu: Argentina dengan style Maradona (sebagai Entrenador) telah memperlihatkan bagaimana sejatinya “sepak bola menyerang itu dioperasionalisasik an tanpa itikad mencederai lawan”, meski mereka kalah. Tetapi, sanjung puji serta permintaan Maradona, yang—entah mengapa: sengaja dilupakan, atau—digusur media adalah, “tak satupun pemain Jerman menendang pemain Inggris (ketika Jerman menyingkirkan Inggris di partai perdelapan final), dan saya harap Jerman tetap bermain menyerang”, papar Maradona.

Memang, lain halnya Maradona, sebagai mantan pemain bola; dia tentu tak kuasa mengelola, bagaimana gairah itu berkecamuk dalam benak dan dada, ketika melihat bola bergulir di lapangan. Amat banyak hal yang dapat dipetik dari sepak bola, entah sebagai “ikon” olah raga paling populer di kolong jagad ini, maupun sebagai “sekolah” yang hendak mempertajam naluri kita tentang kemanusiaan yang dirayakan—pada Piala Dunia 2010—pertama kali ini di benua intan, Afrika kini. Akan tetapi, disinilah justru simpul itu berkelit, seperti “Jabulani”. Seperti dialektika bola.

Kemanusiaan, lebih sering menjadi pepesan kosong ketika (harapan menyaksikan sebuah laga yang menawan itu tidak tampak di lapangan): kemanusiaan diperlawankan dengan keilahian yang amat jauh dari perkara duniawi. Ketika “keilahian” Maradona—yang sebermula dielus-elus industrialisasi media kembali dipersoalkan sebagai “kegagalan yang ilahi itu”, dan pencapaian Manusia (Jerman) dalam sains dan industri melulu disanjungpuji sebagai keunggulan kerja keras dalam taktis, teknis dan strategi—yang melupakan: kerja keras para pendahulunya, seperti Berti Vogts, bahkan Juergen Klinsman yang mereformasi permanainan Jerman. Betapa paradoks, ketika oleh media, akhirnya Maradona kembali dikutuk sebagai biang kegagalan (kemanusiaan) yang ingin menyerupai yang ilahi itu.

Padahal sepanjang pertandingan itu, yang kita saksikan, sekali-kali: hanya sebuah permainan yang menawan oleh kedua Tim. Permainan (sebagai perwujudan dari kata-kata) untuk menunjukkan sesuatu yang menarik, dan menghibur seperti sejatinya filosofi (sepak) bola itu, “homo ludens”. Sebab, “Jika bola hanya berkenaan dengan hasil akhir, apa gunanya kita bermain? Cukup kita melempar keping uang di lapangan untuk menentukan siapa pemenangnya. Penonton sungguh ingin melihat permainan karena mereka mencintainya. Ya, karena respek akan manusia, sepak bola harus merebut kembali cinta,” papar Menotti. Bukankah demikian `Mo? Itu tulisan Sindhunata dalam edisi pertama “catatan sepak bola” jelang Pembukaan Piala Dunia 2010.

Selamat kepada kawan-kawan, dan supporter Timnas Jerman: saya hanyalah penikmat bola, yang ingin selalu menyaksikan respek akan manusia itu benar berlaku di lapangan. Meski kalah, Danke Diego; gloria victis!

Perihal neoroni
Seorang yang percaya akan kekuatan sejati dari mimpi dan harapan

Sebuah Tanggapan untuk DANKE Diego!

  1. Bali Golf courses mengatakan:

    GERMAN…….
    THE BEST

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.