SURROGATES : hidup sempurna penuh kepalsuan
Di jalanan kota berlalu lalang para pria dan wanita sempurna. Mereka tampak muda, tegap, segar, dan tak kenal sakit. Mereka adalah surrogate.
Surrogates, yang juga menjadi judul film, adalah robot-robot pengganti manusia. Manusia asli cukup tinggal di rumah. Mereka mengoperasikan unit surrogate masing-masing dari rumah yang aman. Dari polisi, bankir, pengusaha, sampai pemilik salon, semua beraktivitas tanpa perlu berkeringat. Mereka semua melakukan itu karena ingin kesempurnaan hidup yang mungkin tidak bisa diwujudkan oleh manusia biasa.
Dunia, dalam waktu 15 tahun sejak teknologi surrogate ditemukan, menjadi lebih baik. Tingkat kriminalitas anjlok. Tak ada lagi rasa takut, karena 98 persen dari populasi dunia memakai robot pengganti. Di dunia yang tenteram seperti itu, Tom Greer (diperankan oleh Bruce Willis) adalah seorang agen Biro Penyelidik Federal (FBI) berbasis di Boston.
Suatu kali Greer mendapati kasus pembunuhan. Operator robot pengganti yang rusak ditemukan tewas di mesin operasinya dengan otak terpanggang. Ini kasus langka. Biasanya, kerusakan robot pengganti tak berdampak apa pun terhadap operator. Operator tinggal membeli surrogate baru saja.
Greer pun menyelidiki kasus ini dengan dibantu agen pasangannya, Jennifer Peters (Radha Mitchell). Mereka menemukan alat pembunuh berteknologi lebih-canggih-lagi sebagai penyebab terbunuhnya sejumlah orang. Di tengah pengejaran, surrogate Greer juga rusak. Dia harus bangkit dari tidurnya dan menggerakkan otot-ototnya sendiri ke dunia yang berbahaya.
Dengan set masa depan, film ini dibuka dengan “sejarah” surrogate, dari penemuannya hingga pemasarannya. Juga keberadaan kaum minoritas yang antirobot pengganti, yang memilih tetap hidup dengan tubuhnya sendiri. Dipimpin Sang Rasul (Ving Rhames), mereka tinggal di kantong-kantong konservasi. Robot dilarang masuk kawasan itu.
Film lalu berjalan dengan plot yang tertebak. Jalinan misteri antarkarakter pun disingkap satu per satu, tanpa twist yang tak diduga sebelumnya.
Lalu kehidupan masa depan itu tak diangkat cukup baik ke layar. Tentu saja aneh melihat para manusia sempurna: tanpa jerawat, tanpa kebotakan, dan tanpa tanda penuaan. Tapi yang lebih aneh lagi efek khusus kelas dua, yang menghaluskan muka para aktor seperti sampul-sampul majalah gaya hidup.
Tentu saja menjadi hiburan tersendiri ketika melihat manusia-manusia asli yang mengoperasikan robot masing-masing. Betapa fisik mereka bisa sangat jauh berbeda dari unit surrogate.
Tapi ada juga potret-potret masa depan yang menarik, seperti adegan seorang jenderal memimpin perang dari sebuah ruangan luas. Di dalam sana, para prajurit menghadap layar masing-masing, mengoperasikan robot tentara. Saat rusak, komandannya memberikan robot yang baru.
Film arahan sutradara Jonathan Mostow (Terminator 3: Rise of the Machines) ini diangkat dari miniseri komik The Surrogates terbitan Top Shelf Productions di Amerika Serikat pada 2005-2006. Di komik itu, karakter utamanya adalah Letnan Harvey Greer, dengan set di kota fiktif bernama Central Georgia Metropolis.
Sebagian besar plot intinya diadaptasi ke dalam film, termasuk soal istri Greer, yang kecanduan surrogate, Maggie (Rosamund Pike). Namun, versi filmnya tak berani mengikuti pahitnya akhir cerita di komik.
Judul: Surrogates Aktor: Bruce Willis, James Cromwell, Radha Mitchell, Rosamund Pike, dan Ving Rhames Sutradara: Jonathan Mostow Genre: Science-fiction, aksi, untuk penonton minimal berusia remaja Durasi: 89 menit
